Rabu, 01 Mei 2024

Jelek-Jelek Penulis : Budaya Antri

 ANTRI/ANTRE 

Assalamualaikum, guys. Selamat malam. Salam sejahtera dari saya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, dipermudah segala urusan dan pekerjaan. Aamiin...

Kali ini aku mau membahas tentang 'Antre' atau 'Antri'. 

Mungkin kalian sering mendengar "Bebek aja mau ngantri. Sabar dong.". 

Ilustrasi : Bebek Ngantri

Antre atau yang sering kita ucap dan tulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berdiri untuk mendapat giliran

Biasanya orang-orang antri untuk membayar sesuatu. Salahsatunya membayar barang yang sudah dibeli di kasir. Mengantri itu harus, bertujuan agar tidak berdesak-desakan. Tertata rapi dan disiplin. 

Tapi, apakah kalian pernah diserobot antriannya oleh orang lain? 

Aku sering. 

Dan bagaimana reaksi kalian? Apakah kalian marah atau diam saja?

Kemarin malam saja contohnya. 

Kejadiannya, aku dimintai tolong adik ibuku untuk membeli roti di A***mart. Ketika mau membayar, aku ngantri di belakang bapak-bapak. Setelahnya adalah giliranku. Sebenarnya ketika bapak tersebut melakukan transaksi dengan kasir, satu pasangan laki-laki dan perempuan masuk ke dalam A***mart. Mereka berdiri di sampingku, bukan di belakang. 

Ketika si bapak sudah meninggalkan tempatnya, tiba-tiba si cowok bilang, "Mbak, isi pulsa. 50rb." ke karyawan A***mart. Aku diam sambil ngelihat si Abang. Kukira si kakak kasir bakal ngeladenin, karena uangnya diletakkan di depannya. Diterima? Tidak. Hanya dipegang sebentar, lalu senyum sebentar. 

"Oh iya, mas, ini aja?" 

Alhamdulillah, kakak karyawan A***mart bertanya padaku. 

Ini real dan aku cuma senyum tipis saja melihat abang-abang itu, sambil berjalan keluar. 

Lalu ada satu kejadian lagi, yang aku alami 5 hari lalu. 

Ada satu bakso tusuk langgananku, yang memang enak rasanya. Sudah jadi langganan sejak masih kuliah sampai sekarang. Aku datang agak telat, karena udah ramai. Salahku memang. 

Tapi aku tetap ngantri.

Lalu ketika tiba giliranku, salahsatu perempuan, sendirian dia, "Bu, 10rb campur ya.". Ngantrinya memang bukan berdiri berderet ke belakang, tapi mengelilingi si ibu pedagang. Aku diam, ngelihatin si kakak. Sementara si ibu pedagang, "Mas ini duluan ya, kak.".

Aku bilang ke ibunya, "Kakak ini aja dulu, Bu. Buru-buru banget kayaknya. Enggak apapa.". 

Jujur saja, memang tak apa-apa. Karena aku juga tidak buru-buru, tapi heran, 'Kok orang-orang masih ada yang enggak tau budaya antri ya?'. 

Apa susahnya ngantri?

Hal Lain dan Penting

Apa yang akan kalian lakukan kalau pergi ke SPBU ( mau isi bensin ), tapi ternyata antriannya panjang?

Aku pernah mengantri dari jauh-jauh banget, lalu ketika sudah mau dekat, kena potong. Lalu aku diam saja, tapi orang yang di belakangku tidak. 

Ribut? 

Tidak. Justru malah orang itu menyadari kesalahannya dan minta maaf. Karena katanya dia memang buru-buru. 

Aku tidak tau kenapa, aku diam saja kalau dijahatin. Menurutku itu aku dijahatin. Karena aku sudah capek-capek ngantri, eh, dipotong. Aku diam pun sebenarnya aku bukan marah, aku heran, "Nih orang napa dah? Kocak.". 

Daripada marah, mending ingatin. Jika tidak mau diingatin, barulah harus tegas. 

Tapi ya aku aneh juga ya. Kok aku diam?

Aku bukan tipe orang yang mudah marah. Kalau pun marah, marahku hanya diam. Tidak dipendam, tapi diam. Karena sebaik-baiknya orang, adalah orang yang amarahnya tidak meluap-luap. Apalagi sampai terlepas. 

Begitu saja cerita kali ini, semoga menginspirasi dan memotivasi. See u, guys.

Wassalamu'alaikum...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar